Jati
Jati berasal dari Asia Selatan dan Asia Tenggara, terutama India, Myanmar, Laos, dan Thailand. Tanaman ini dikenal sebagai kayu keras tropis berkualitas tinggi.
Jati adalah pohon besar yang dapat mencapai ketinggian 30–40 meter dengan batang lurus dan berdiameter hingga 200 cm. Daunnya besar, berbentuk oval, dan berwarna hijau muda saat muda lalu berubah menjadi hijau tua. Bunganya kecil, berwarna putih kekuningan, dan menghasilkan buah berbentuk bulat.
Jati tumbuh optimal di daerah tropis dengan suhu 27–36°C, curah hujan tahunan 1.200–2.000 mm, dan musim kemarau yang jelas. Tanaman ini membutuhkan tanah subur dengan pH 6,5–7,5 dan drainase baik. Jati sering tumbuh di ketinggian 0–700 meter di atas permukaan laut.
Budidaya jati telah dilakukan di India dan Myanmar sejak ribuan tahun lalu untuk memenuhi kebutuhan konstruksi dan kapal. Di Indonesia, jati diperkenalkan oleh kolonial Belanda pada abad ke-17, dengan Jawa menjadi pusat utama budidaya jati.
Jati menghasilkan kayu yang kuat, tahan lama, dan tahan terhadap serangan rayap. Produk kayu jati meliputi perabot, lantai, konstruksi rumah, dan kapal. Selain itu, daunnya digunakan untuk pembungkus makanan tradisional.
Jati tersebar luas di wilayah tropis seperti India, Myanmar, Thailand, Laos, dan Indonesia. Di Indonesia, jati banyak ditanam di Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi, dan Nusa Tenggara.
Jati adalah komoditas kayu unggulan Indonesia yang memiliki nilai ekonomis tinggi di pasar lokal dan ekspor. Budidaya jati mendukung sektor perkayuan, menciptakan lapangan kerja, dan menjadi bahan baku utama industri mebel dan konstruksi.
Budidaya jati dimulai dengan pembibitan dari biji atau stek klonal. Bibit ditanam dengan jarak 3x3 meter atau 4x4 meter. Pemeliharaan meliputi pemupukan, penyiangan, dan pengendalian hama serta penyakit. Jati biasanya dipanen setelah 20–25 tahun untuk menghasilkan kayu berkualitas tinggi, meskipun panen lebih awal (8–15 tahun) dapat dilakukan untuk jenis kayu komersial tertentu.